Jl. K. Abdan No. 03, Tepo, Dlimas, Tegalrejo, Magelang

Pembinaan Tenaga Pendidik SBP oleh Dirut SMK

[fusion_builder_container hundred_percent=”yes” overflow=”visible”][fusion_builder_row][fusion_builder_column type=”1_1″ background_position=”left top” background_color=”” border_size=”” border_color=”” border_style=”solid” spacing=”yes” background_image=”” background_repeat=”no-repeat” padding=”” margin_top=”0px” margin_bottom=”0px” class=”” id=”” animation_type=”” animation_speed=”0.3″ animation_direction=”left” hide_on_mobile=”no” center_content=”no” min_height=”none”]

pembinaan-guru
Pembinaan Tenaga Pendidik Sekolah Berbasis Pesantren

Merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi Yayasan Syubbanul Wathon, terutama dari sisi penyelenggara yakni SMK Syubbanul Wathon, mendapati kunjungan dari Dirut SMK Kementerian Pendidikan Indonesia, KH. Mustaghfirin Amin, MBA. Dalam kunjungannya kali ini, bertujuan untuk melakukan pembinaan pendidik dan tenaga kependidikan sekolah berbasis pesantren (SBP).
Dalam acara ini, turut pula hadir Kepala Disdikpora Kabupaten Magelang, Drs. Eko Triyono, yang dalam sambutannya beliau menegaskan bahwa APK Kelulusan MTs dan SMP yang ada di Magelang sekarang ini sudah baik, namun untuk APK Kelulusan dari SMA maupun SMK masih memprihatinkan. “Melihat kenyataan sekarang ini, diharapkan agar SMK Syubbanul Wathon dapat menjadi sekolah rujukan, sehingga peluang untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045 Insya Allah dapat kita raih,”ujar beliau. Dalam kesempatan ini, Drs. Eko Triyono juga menjelaskan bahwa Indonesia sekarang ini telah menjadi salah satu negara darurat narkoba. Data terakhir menunjukkan fakta yang cukup memprihatinkan, 42 juta warga Indonesia telah menjadi pecandu narkoba, dimana hampir 5 orang setiap harinya meninggal akibat obat terlarang ini. Mulai dari usia anak SD hingga lansia.
“Mulai tahun ini, pemerintah akan merehabilitasi para pecandu narkoba mulai dari 100.000 pecandu. Diharapkan, melalui adanya sekolah-sekolah berbasis pesantren inilah angka tersebut dapat terkurangi. Dengan pengarahan dan bimbingan yang baik, pondasi yang kokoh mulai dari awal masuk pesantren, siswa akan terhindar dari bahaya narkoba,” tegas Eko.
Perkembangan selama tujuh tahun terakhir ini, SMK Syubbanul Wathon telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Enam tahun yang lalu, SMK bertransformasi dari yang tidak ada apa-apanya menjadi ada. Dengan bermodalkan niat, Yayasan Syubbanul Wathon mulai mendirikan SMK atas amanah dari KH. Abdurrachman Chudlori. Atas dasar lillah, dengan menerima siswa angkatan pertama sebanyak 109 siswa, SMK Syubbanul Wathon memulai perjalanannya dengan masih menumpang di MAN Tegalrejo. Di tahun kedua, SMK mulai memiliki gedung sendiri. Berawal dari 8 kelas, kini SMK telah memiliki 18 ruangan yang dilengkapi dengan laboratorium TKJ, Multimedia, KKPI, Hardware Software, dan juga Tata Busana.
“Kunci kemajuan SMK terletak pada siswanya. Jika dari tahun ke tahun semakin banyak siswa yang mendaftar, maka hal ini menunjukkan bahwa SMK ini telah memberikan gaung yang positif kepada masyarakat,” ujar KH. Mustaghfirin Amin, Dirut SMK.
Selain itu, Mustaghfirin juga menegaskan bahwa SMK itu jika tahu pengelolaannya, maka akan sangat mudah untuk bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaik. Dari 12.000 SMK yang ada di Indonesia, baru ada 180 SMK yang menjadi sekolah rujukan, SMK Syubbanul Wathon adalah salah satunya.
“Pada tahapan awal, SMK jika sudah menerima 1000 siswa, ibaratnya sekolah itu telah menjadi kapal tanker, sudah mampu untuk berjalan dengan tenang, meskipun ada angin dan gelombang yang menerpanya. Dan SMK Syubbanul Wathon telah mencapai tahapan ini. Diharapkan agar bisa meningkat ke tahapan selanjutnya,”tegas Mustaghfirin.
Untuk bisa mencapai tahapan selanjutnya, maka sebuah SMK harus bisa mencapai angka 2100 siswa. Selain didukung dari sisi siswanya, maka ada satu hal penting yang harus diperhatikan, yakni kualitas guru pembimbing yang harus ditingkatkan. Jika pada umumnya, sekolah dikatakan bermutu apabila telah melengkapi tiga syarat utama, yaitu proses pembelajaran, kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran, serta kecukupan guru, maka untuk sekolah berbasis pesantren tidak akan bisa berjalan hanya dengan tiga syarat tersebut. Ada satu hal penting yang justru harus diperhatikan, yaitu akulturasi pesantren, dimana tidak bisa dibedakan lagi mana pelajaran umum dan mana pelajaran pesantren.
Dalam kesempatan ini, Mustaghfirin menjelaskan cara-cara untuk bisa menjalankan akulturasi pesantren. Yang pertama, blanded atau pencampuran dalam hal penjadwalan agama dan umum. Maka SMK diharapkan agar mampu menciptakan metode pembelajaran yang siswanya tidak bisa lagi membedakan mana pelajaran pesantren dan mana pelajaran umumnya. Hal ini karena kedua pelajaran tersebut telah menyatu. Sebagai contohnya, jika pada sekolah umum merakit komputer hanya akan menghasilkan sebuah PC yang siap pakai, maka pada metode pembelajaran kali ini, siswa tidak hanya berpikir seperti itu saja. Siswa akan merasa bahwa dalam prosesnya, merakit komputer akan berbuah pahala, karena jika telah menjadi sebuah PC yang utuh akan bisa bermanfaat untuk orang lain.
Yang kedua, penghayatan guru pembimbing sebagai santri. Tidak dipungkiri bahwa para pembimbing yang ada di SMK Syubbanul Wathon ini pasti memiliki background yang berbeda-beda. Ada yang lulusan pondok pesantren murni, ada pula yang baru mengenal pondok pesantren setelah berada di SMK ini. “Idealnya, guru-guru yang ada di sini, mampu menghayati dirinya sebagai santri juga. Karena pada akhirnya, gerakan hidupnya akan bernafaskan santri. Sehingga akan bisa menjadi uswatun khasanah bagi anak-anak didiknya,” tegas Mustaghfirin.
Yang ketiga, regenerasi. Berbekal dari poin kedua di atas, Mustaghfirin menjelaskan bahwa untuk bisa menjalankan proses pembelajaran yang baik, maka dari sisi pembimbingnya dapat mengambil dari alumni-alumni SMK sendiri. Hal ini dilakukan dengan alasan jika mengambil tenaga pendidik dari luar dengan kultur yang berbeda, kenapa tidak mengambil dari alumni sendiri yang sudah mengetahui jalannya kehidupan yang ada di pesantren. Pada tahun ini, SMK Syubbanul Wathon telah melaksanakan program tersebut. Sebanyak 32 alumni disekolahkan lagi untuk bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, agar kelak mampu untuk menjadi tenaga pendidik yang sekaligus menjadi uswatun khasanah sesuai yang dijabarkan oleh Dirut SMK tersebut.
Yang keempat, teaching victory. Adanya pabrik yang dimiliki sebuah SMK yang diharapkan mampu untuk mengembangkan keterampilan sebagai kecakapan hidup, professional, dan produktif.
Ada sebuah harapan besar dari Mustaghfirin. Dengan adanya sekolah berbasis pesantren ini, diharapkan agar pesantren mampu untuk menjabarkan ajaran Rasulullah SAW, yaitu rahmatan lil ‘alamin.

[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.